Minggu, 17 Februari 2013

HADITS TENTANG SIFAT PRIBADI RASULULLAH S A W

HADITS TENTANG SIFAT PRIBADI RASULULLAH S A W

BiSmil Laahir RahMaanir RahiiM

Diriwayatkan oleh Ya'kub bin Alfasawy dari Hasan bin Ali ra beliau berkata : "Pernah aku tanyakan kepada pamanku  yang bernama Hindun bin Abi Haala karena dia adalah seorang yang pandai sekali mensifatkan tentang pribadi Rasulullah SAW , dan aku sangat senang sekali mendengarkan sifat Rasulullah SAW untuk aku jadikan bahan ingatan . Maka katanya : " Rasulullah SAW adalah yang agung dan diagungkan , wajahnya berkilauan bagaikan bulan purnama , tingginya cukup ( tidak pendek dan tidak jangkung ) , dadanya lebar ( bidang ) , rambutnya selalu rapih dan terbelah ditengah , rambutnya panjang sampai pada ujung telinganya , dan berambut banyak , mukanya bergabung menjadi satu , diantara kedua alisnya itu ada urat yang dapat terlihat ketika diwaktu beliau sedang marah , hidungnya tinggi membungkuk ditengahnya dan kecil lubangnya , nampak sekali padanya cahaya , sehingga orang yang memperhatikannya mengira hidung beliau itu tinggi ( mancung ) . Janggut jambangnya lebat , bola matanya sangat hitam sekali , kedua pipinya lembut halus , mulutnya tebal indah , giginya putih bersih , pada dadanya tumbuh bulu halus , lehernya indah bersinar , bentuk tubuhnya sedang agak gemuk dan gesit dan lincah , antara perut dan dadanya sama (tegak) , dadanya lebar , diantara dua bahunya melebar , tulangnya besar , kulitnya bersih , antara dada sampai kepusarnya ditumbuhi bulu halus seperti garis , pada kedua teteknya sampai pada perutnya tidak ada bulu , sedangkan pada kedua hastanya dan kedua bahunya dan pada dadanya ditumbuhi bulu halus , lenganya panjang , telapak tangannya lebar , halus tulangnya , jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging , panjang ujung jarinya , rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah bila beliau sedang berjalan , kedua telapak kakinya lembut ( licin ) tidak ada lipatan dan kerutan , bila sedang berjalan suara derapan kakinya itu terangkat tinggi seolah - olah air yang sedang jatuh ( jalannya ringan , kakinya terangkat , tapi tidak seperti jalannya orang yang sombong ) jalannya tunduk dan menunjukan kehebatan bila berjalan , maka jalannya agak cepat bagaikan dia turun dari tempat yang tinggi , bila menoleh maka beliau menolehkan seluruh badannya , matanya selalu tunduk kebawah dan pandangannya senantiasa memperhatikan sesuatu itu dengan sungguh - sungguhdan selalu berjalan dengan sahabat - sahabatnya dan selalu memulai dengan salam bila beliau berjumpa dengan siapapun ." 

KATAKU SELANJUTNYA : "Terangkanlah padaku tentang kebiasaan Rasulullah SAW ." Maka katanya , "Keadaan pribadi Rasulullah SAW itu biasanya tampak selalu kelihatan seolah - olah selalu berpikir , tidak pernah mengecap istirahat sedikitpun , tidak berbicara kecuali hanya kalau bila perlu , senantiasa diam , selalu memulai bila sedang berbicara beliau selalu memakai kalimat - kalimat yang banyak artinya ( bijaksana ) , pembicaraannya itu jelas tanpa berlebihan ataupun kurang , lemah lembut budi pekertinya , tidak kasar tetapi bukannya rendah dan mengagungkan nikmat ALLOH SWT walaupun yang sekecil - kecilnya, tidak pernah mencela-NYA sedikitpun dan tidak pula memujinya berlebihan , bila ada orang yang memperkosa kebenaran maka beliau akan marah - marah dengan sangat dan tidak ada seorangpun yang berani menghalangi kemarahannya itu sampai kebenaran menang . 

DAN DALAM RAWAYAT LAIN DISEBUTKAN : Bahwa beliau tidak pernah marah bila menyangkut dengan urusan keduniawian , bila ada sesuatu yang benar sedang diperkosa maka beliau akan marah sehingga tak akan memandang kepada siapapun juga dan tidak akan ada yang dapat menghalangi kemarahannya itu sampai kebenaran itu menang , dan tidak pernah marah karena dirinya . Bila beliau sedang memberikan isyarat ( menunjuk ) maka beliau mengisyaratkan dengan seluruh telapak tangannya , bila beliau sedang takjub pada sesuatu maka beliau balikan telapak tangannya , bila beliau sedang berbicara maka sering beliau memukulkan telapak tangannya yang kanan pada ibu jarinya tangan kirinya , bila beliau sedang marah maka beliau sering berpaling , bila beliau sedang bergembira maka beliau sering tersenyum (tertawa ) , bila tertawa beliau senantiasa tersenyum  saja dan senyumannya itu serupa embun yang dingin . 

MAKA KATA HASAN : Berita ini aku sembunyikan dan ternyata adikku sudah lebih dulu mengetahuinya dari padaku dan malahan dia sendiri yang telah bertanya pada ayahnya tentang keluar masuknya Rasulullah SAW ke Majelisnya . 

KATA HASAN : Maka akupun pernah bertanya tentang pribadi Rasulullah SAW  dan diapun menjawab :  "Bahwa Rasulullah SAW telah masuk kerumahnya beliau membagi waktunya menjadi tiga bagian . Sebagian untuk ALLOH SWT , sebagian lagi untuk keluarganya dan sebagian yang lain untuk dirinya sendiri . Kemudian bagian untuk dirinya itu dibagikan pula untuk kepentingannya sendiri dan untuk kepentingan orang lain . Beliau selalu mengutamakan untuk kepentingan umum lebih dari untuk kepentingannya pribadinya sendiri , beliau tidak pernah mengurangi hak mereka sedikitpun . Adapun contoh dari sirahnya berkenaan dengan kepentingan ummat , ialah bahwa beliau lebih mengutamakan orang - orang yang mulia dengan segala kesopanan dan menurut kedudukannya dalam ketaqwaan . Sebagian dari mereka ada yang mempunyai satu kepentingandan ada pula yang mempunyai dua kepentingan , dan ada pula yang mempunyai banyak kebutuhan . Untuk itu beliau mensibukan dirinya dengan mereka dan mengatur mereka demi untuk kepentingan mereka dan sekalian ummat dari urusannya tadi . Beliau sibuk dengan memberitahu kepada mereka apa yang harus dikerjakan , dengan bersabda : Hendaknya orang yang kini hadir mengabarkan kepada mereka yang tidak hadir dan sampaikanlah hajatnya orang yang tidak dapat berjumpa denganku , karena sesungguhnya barang siapa yang menyampaikan hajatnya seseorang yang tidak mampu untuk bertemu dengan seorang pemimpin , maka ALLOH SWT akan menetapkan kaki orang itu di Sorga kelak pada hari Kiamat nanti . Dan para pengunjung yang datang di Majelis Rasulullah SAW tidak keluar kecuali setelah mereka mengerti segala masalah dan dalilnya .

KATA HASAN SELANJUTNYA :  "Kemudian aku tanyakan pada ayahku bagaimanakah keadaan Rasulullah SAW bila diluar . Maka jawabnya : "Rasulullah SAW bila diluar . 

MAKA JAWABNYA : "Rasulullah SAW senantiasa menjaga lidahnya kecuali hanya untuk berbicara seperlunya , bila berbicara senantisa bicara dengan halus ( lemah lembut ) dan tak pernah berbicara dengan kasar terhadap Sahabat dan Ummatnya dan senantiasa memuliakan terhadap orang yang mulia ( berkedudukan ) dan memperingatkan orang jangan sampai ada yang bertindak menyinggung perasaannya dan perbuatannya . Kebiasaannya selalu menanyakan keadaan Sahabat Sahabatnya , dan beliau selalu memuji segala sesuatu yang baik dan membenci segala sesuatu yang buruk . Segala urusannya itu dibuatnya sebaik mungkin . Tak pernah beliau lalai atau malas , demi menjaga jangan sampai mereka melalaikan dan meremehkan . Segala sesuatu dipersiapkan terlebih dahulu , dan tidak akan pernah meremehkan ( mengecilkan ) kebenaran . Orang yang paling terpandang menurut Rasulullah SAW ialah mereka yang baik paling kelakuannya , dan orang yang paling mulia adalah mereka yang paling banyak bernasehat ( memberikan petunjuk ) kepada orang lain , dan orang yang paling tinggi sekali kedudukannya adalah mereka yang selalu ramah tamah dan yang paling banyak tolong menolong . 

DAN LAGI KATA HASAN :  "Kemudian aku tanyakan tentang duduknya Rasulullah SAW . DAN JAWABNYA : "Kebiasaan Rasulullah SAW tidak pernah duduk atau berdiri kecuali dengan berdzikir dan tidak pernah menguasai tempat duduk dan melarang seseorang untuk menguasai tempat duduk dan bila beliau sampai pada tempat orang yang sedang berkumpul maka beliau duduk dimana saja ada tempat terluang beliau sampai ditempat itu dan duduk ( Beliau tidak pernah mengusir orang lain dari tempat duduknya )dan beliau juga menyuruh berbuat seperti itu . Beliau selalu menyejukan hati bagi siapa saja yang duduk bersama beliau , sehingga jangan sampai ada orang yang merasa bahwa orang lain dimuliakan oleh beliau lebih dari padanya . Bila ada orang duduk dimajelisnya beliau selalu bersabar sampai orang itu yang bangkit terlebih dahulu dari duduknya ( Beliau tak pernah mengusir teman / sahabatnya yang mnduduki tempatnya ) . Dan bila ada yang minta pada beliau sesuatu hajat maka beliau selalu memenuhi permintaan orang itu atau bila tak dapat memenuhinya beliau selalu berkata kepada orang itu dengan perkataan yang lemah lembut . Semua orang selalu senang dengan budi pekerti beliau sehingga Sahabat dan teman beliau menganggap sebagai anak beliau dalam kebenaran dengan tidak ada perbedaan sedikitpun diantara mereka dalam pandangan beliau . Kemudian Majelis beliau itu adalah tempatnya orang yang ramah tamah , orang sabar dan menjaga amanah dan Majelis beliau itu tidak ada yang berbicara dengan mengeraskan suaranya dan di Majelis beliau itu tidak ada yang mencela orang dan tidak ada orang yang menyiarkan kejelekan atau kejahatan orang lain . Di Majelisnya itu mereka selalu sama rata dan yang dilebihkan ketaqwaannya saja , mereka selalu merendahkan diri ( bertawadhu) sesama mereka yang tua selalu dihormati dan yang muda selalu disayangi , sedangkan orang punya hajat lebih diutamakan ( didahulukan ) dan orang orang asing ( ghorib )selalu dimulyakan dan dijaga perasaannya ."

SEKALI LAGI KATA HASAN : "Maka aku tanyakan tentang keadannya bila beliau sedang berada di tengah tengah Sahabat dan kawan kawannya . DAN JAWABANNYA : "Rasulullah SAW senantiasa periang dan gembira , budi pekertinya baik ( luwes ) dan senantiasa ramah tamah , tidak kasar maupun bengis terhadap seseorang , tidak suka berteriak teriak , tidak suka perbuatan yang keji , tidak suka mencaci dan tidak suka bergurai berlebihan ( olok olokan ) dan selalu melupakan apa yang tidak disukainya dan tidak pernah menolak permintaan seseorang yang meminta.

(1) Beliau tidak mau mencela seseorang atau menjelekkannya dan tidak pernah mencari cari kesalahan orang lain dan tidak akan pernah berbicara kecuali yang baik baik saja ( yang berfaedah ) . 

(2) Namun bila beliau sedang berbicara maka pembicaraannya itu akan membuat orang yang ada disisinya menjadi tunduk , seolah olah diatas kepala mereka itu ada burung yang hinggap . 

(3) Bila beliau sedang berbicara maka banyak yang diam mendengarkan dan tidak ada yang berani di Majelisnya untuk merusakkan ( memutus pembicaraan beliau ) dan beliau senantiasa ikut tersenyum bila Sahabat Sahabatnya tersenyum ( tertawa ) dan ikut juga takjub ( heran ) bila mereka itu merasa takjub pada sesuatu dan beliau selalu bersabar mengabulkan bila menghadapi seseorang yang baru ( asing ) yang mempunyai hajat dan sering terjadi meminta pertolongan kepada beliau . 

DAN BELIAU BERSABDA : "Bila kamu melihat ada orang yang berhajat maka tolonglah orang itu dan beliau tidak mau menerima pujian orang lain kecuali dengan sepantasnya dan beliau tidak pernah memotong pembicaraan orang lain sampai orang itu sendiri yang berhenti dan berdiri meninggalkannya ." 

KATA HASAN SELANJUTNYA : Selanjutnya aku tanyakan padanya bagaimanakan pribadi Rasulullah SAW bila berdiam . 

JAWABNYA : "Diamnya Rasulullah SAW terbagi dalam empat keadaan : 

"DIAM KARENA BERLAKU SANTUN , DIAM KARENA SELAKU BERHATI HATI , DIAM UNTUK MEMPERTIMBANGKAN SESUATU dan DIAM KARENA SEDANG BERPIKIR ."

Adapun pertimbangannya berlaku untuk mempertimbangkan pendapat orang lain serta mendengarkan pembicaraan orang lain dan sedangkan pemikirannya selalu tertuju pada segala sesuatu yang akan kekal dan sesuatu yang akan lenyap ( didunia fana ) . Pribadi Rasulullah SAW senantiasa berlaku santun , sabar dan beliau tidak pernah membuat kemarahan seseorang dan tidak pernah membuat seseorang membencinya ( kecuali orang orang kafir Quraits ) , dan beliau senantiasa berlaku hati hati dalam segala perkara , selalu suka pada kebaikan dan berbuat sekuat tenaga untuk kepentingan Ummatnya dan demi kebaikan mereka itu supaya baik di Dunia maupun di Akhirat kelak . 

HADITS DIATAS PERNAH DIRIWAYATKAN OLEH IMAM TIRMIZY dalam "BAB SYAMAIL" dari sumber HASAN Bin ALI Bin ABI THALIB .R.A . dan Juga dalam HADITS itu disebutkan sumbernya dari saudara kandung Sayidina HUSEIN Bin ALI Bin ABI THALIB . R.A.

Poskan Komentar